Jumat, 15 April 2016

Gaya Kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta



Profil dan Biografi DR.H.Mohammad Hatta - Proklamator Kemerdekaan RI 


Dr.H.Mohammad Hatta merupakan salah satu tokoh pejuang yang sangat berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh proklamator. Beliau lahir pada tanggal 12 Agustus 1902, tepatnya di Bukit tinggi Sumatera Barat. Beliau lebih dikenal dengan nama Bung Hatta.Dr.H.Mohammad Hatta lahir dari seorang ibu yang bernama Siti Saleha dan seorang ayah yang bernama Muhammad Djamil. Hatta dibesarkan di lingkungan yang agamis. Kakeknya merupakan ulama yang mendirikan sebuah surau di Batuhampar. Latar belakang keluarga ibunya yaitu pedagang. Keluarga dari ibunya tergolong pedagang yang sukses.

Dr.H.Mohammad Hatta belajar di Europese Largere School (ELS) di Bukit tinggi yang saat ini berganti nama menjadi SMAN I Padang. Beliau juga menempuh studi di Meer Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang. Beliau juga menempuh pendidikan yang berhubungan dengan perdagangan yaitu Handel Middlebare School (Sekolah Menengah Dagang) dan yang terakhir beliau menempuh pendidikan di Belanda yaitu di Nederland Handel shoge school. Disinilah beliau mendapatkan gelar Drs. Pengetahuan agama juga tak luput dari pendidikan yang ditempuhnya. Beliau bahkan belajar agama dengan ulama-ulama yang berada di Indonesia antara lain Abdullah Ahmad, Muhammad Jamil Jambek, dan beberapa tokoh ulama lainnya.

Dr.H.Mohammad Hatta tidak hanya berperan sebagai tokoh proklamator, melainkan beliau juga aktif dalam bidang organisasi dan politik. Perannya dalam dunia politik diawali beliau terpilih menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond di wilayah Padang. Pengetahuan politik yang dimilikinya berkembang sangat pesat ketika beliau sering menghadiri berbagai pertemuan-pertemuan politik. Beliau juga bergabung dengan sebuah organisasi social. Organisasi tersebut bernama Indische Vereeniging. Organisasi ini akhirnya berubah menjadi sebuah organisasi politik. Hal ini terjadi karena adanya Ki Hadjar Dewantara yang memiliki pengaruh cukup besar dalam perkembangan organisasi tersebut.

Dr.H.Mohammad Hatta menjadi wakil ketua persiapan kemerdekaan pada bulan Agustus 1945. Acara tersebut diketuai oleh
Soekarno. Pada saat itu Dr.H.Mohammad Hatta diperintahkan oleh Soekarno untuk menulis naskah proklamasi yang akan dibacakannya pada acara tersebut. Namun, beliau tetap ingin naskah tersebut di tulis oleh Soekarno. Akhirnya, Soekarno mengetiknya dan menyuruh Hatta untuk ikut menandatangani naskah proklamasi tersebut.
Tipe Kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta
Tipe kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta yaitu demokratis. Karena beliau menyerahkan dirinya secara total untuk kepentingan rakyat, jujur dan bersih, berkomitmen penuh pada perbaikan nasib dan tingkat hidup rakyat kecil, menegakkan dan menjalankan secara konsekuen nilai-nilai demokrasi kerakyatan, serta mengutamakan rasio ketimbang emosi. Selain itu beliau juga berjuang dalam usaha pendidikan rakyat.
GAYA KEPEMIMPINAN Dr.H.MOHAMMAD HATTA
Gaya kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta dapat digolongkan kedalam tipe kepemimpinan rasional, ini terlihat ketika Dr.H.Mohammad Hatta menjalankan kewajibannya sebagai Wakil Presiden. Gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh Mohammad Hatta tidak begitu saja muncul di dalam dirinya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi gaya kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta. Ada dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang nantinya akan membentuk kepribadian dan karakter Dr.H.Mohammad Hatta. Faktor eksternal yaitu faktor yang membentuk pemikiran Dr.H.Mohammad Hatta serta membuat pandangan Dr.H.Mohammad Hatta tentang politik lebih matang dan tambah berkembang. Sebagai seorang pemimpin Dr.H.Mohammad Hatta banyak meninggalkan nilai-nilai keteladanan. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diambil dalam diri Dr.H.Mohammad Hatta diantaranya adalah sikap cinta tanah air, sikap demokratis dan sikap moralitas. Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis dapat menyampaikan beberapa saran yaitu dapat menambah wawasan mengenai gaya kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta. Kita dapat meneladani dan mencontoh sikap-sikap yang diperlihatkan oleh Dr.H.Mohammad Hatta seperti cinta tanah air, sikap demokratis dan sikap moralitas.
.
Dr.H.Mohammad Hatta, wawasan intelektualnya sangat jauh ke depan, sementara moral politiknya yang prima dan anggun banyak diakui kawan dan lawan. Jaman pendudukan Jepang (tahun 1942-1945) bagi Dr.H.Mohammad Hatta, merupakan sebuah ujian besar, yang hanya dapat diatasinya karena keteguhan iman dan optimismenya akan tercapainya cita-cita Indonesia merdeka. Kedaulatan rakyat merupakan prinsip yang diperjuangkan selama hidupnya. Cita-cita tentang keadilan sosial adalah sari pati dari nilai-nilai timur dan barat yang mengkristal dan membentuk visi Beliau mengenai masalah-masalah politik kenegaraan. Beliau sangat percaya bahwa demokrasi adalah masa depan sistem politik Indonesia.

Dr.H.Mohammad Hatta sejak muda memegang prinsip kejujuran. Tipe kepemimpinan Dr.H.Mohammad Hatta yaitu demokratis. Karena beliau menyerahkan dirinya secara total untuk kepentingan rakyat, jujur dan bersih, berkomitmen penuh pada perbaikan nasib dan tingkat hidup rakyat kecil, menegakkan dan menjalankan secara konsekuen nilai-nilai demokrasi kerakyatan, serta mengutamakan rasio ketimbang emosi. Selain itu beliau juga berjuang dalam usaha pendidikan rakyat. Dalam organisasi PNI, Dr.H.Mohammad Hatta menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan. Beliau melihat bahwa melalui pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai kemerdekaan. Minatnya pada bidang ekonomi, dan juga koperasi, terus terlihat melalui berbagai karangan dan buku. Karenanya, pada tanggal 17 Juli 1953 dalam Kongres Koperasi Indonesia dirinya diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia.


Peranan Dr.H.Mohammad Hatta dalam revolusi Nasional Indonesia dibuktikan saat persiapan kemerdekaan dengan menjadi anggota BPUPKI dan PPKI. Selain itu Dr.H.Mohammad Hatta juga berpartisipasi dalam perumusan teks proklamasi yang dituangkan dalam penyusunan kata-kata maupun kalimatnya. Peranan Dr.H.Mohammad Hatta lainnya adalah disaat menjadi wakil presiden pertama dengan persetujuan presiden dan anggota komite nasional Dr.H.Mohammad Hatta menandatangani dua maklumat yaitu maklumat no.X yang berisi tentang pembentukan Komite Nasional Pusat yang akan membantu tugas dari presiden dan maklumat 3 Nopember 1945 yang berisi tentang pembentukan partai-partai politik. Peran Dr.H.Mohammad Hatta di saat menjabat perdana menteri adalah dengan keberaniannya Dr.H.Mohammad Hatta menerima dan melaksanakan hasil dari perjanjian Renvile yang mendapat protes keras dari rakyat Indonesia. Peran Dr.H.Mohammad Hatta yang tidak kalah penting adalah disaat Dr.H.Mohammad Hatta menjadi delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda dengan gigihnya Dr.H.Mohammad Hatta memperjuangkan Irian Barat yang semula tidak akan dikembalikan ke Indonesia oleh pemerintah Belanda. Dr.H.Mohammad Hatta juga menolak jumlah hutang Belanda yang harus dibayar Indonesia.